Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Keluarga » Pernikahan » Syahadat Yang Berat

Syahadat Yang Berat

(1366 Views) February 26, 2014 4:59 am | Published by | No comment

Syahadat Yang Berat

Bahwa Allah memilih dengan tidak iseng, itu seratus persen saya yakin. Seyakin-yakinnya. Tapi, ketika pilihan itu jatuh kepada kami – yakni menjadi pasangan cinta yang tidak membuahkan – ingin rasanya kami tertidur saja. Tidur yang panjang, dan bangun disaat malaikat Isrofil meniup terompet untuk kedua kalinya.

Sudah sembilan tahun pernikahan kami. Dan sepertinya Allah menghendaki kami untuk terus “berpacaran.” Sesuai dengan kadar asli seorang hamba, tentu berbagai usaha kami lakukan. Dan ujung dari usaha itu adalah bahwa tumor ganas telah bersarang di rahim istri saya sehingga rahim istri saya itu harus diangkat.

Sembilan tahun ikhtiar kami berdua harus berakhir di ruang operasi. Ingin rasanya saat itu dunia ini runtuh saja. Saya dihadapkan pada pilihan sulit: memilih keselamatan istri atau tidak mendapatkan putra darinya. Padahal, lazimnya laki-laki sekaligus suami, impian terbesar saya adalah mempunyai buah hati.

Sekuat daya saya paksa diri untuk berkaca dan bertanya. Apakah ini teguran, ujian, atau azab? Barangkali saya memang pantas di azab karena dosa saya yang sebanyak buih di tujuh samudra. Lebih bahkan. Saya pantas dihukum karena terlalu lama lelap melupakan-Nya.

Istri berusaha tabah, tapi raut kekecewaan tetap tak dapat ia hilangkan. Harapan memberikan hadiah terindah buat suami pupus sudah. Ibarat sebuah perjalanan, bahtera rumah tangga kami tengah menghadapi gelombang besar.

Hati sempat berkata kalau saya berhak memilih. Saya punya hak untuk memiliki generasi penerus keturunan dari darah daging saya sendiri. Aturan hukum memberi peluang saya untuk berpoligami.

Namun, semakin saya memperoleh dalih yang membenarkan poligami, pada detik yang sama saya dirundung rasa bersalah dan tak tega. Kerap kali saya bertanya, manusia macam apa saya? Hanya karena ingin disebut ayah, saya akan tega menambah beban seorang wanita lemah, makhluk indah yang semestinya saya sayangi. Karena, kalau boleh memilih, tentulah ia tak ingin tumor ganas merenggut rahimnya.

Sentuhan cinta, perhatian, pompaan optimisme dari orang-orang terkasih membuat kami masih mampu tegak berdiri. Dorongan sahabat-sahabat karib menguatkan kami untuk tetap bertahan mengarungi hidup dan belajar menerima kenyataan. Dan bukankah tujuan pernikahan bukan semata untuk memperoleh keturunan? Melainkan lebih daripada itu, yaitu untuk mendapat ketentraman, cinta, dan kasih.

Setelah berislam lebih dari tiga puluh empat tahun lamanya, untuk pertama kalinya saya dipaksa untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahadat yang berat. Syahadat yang menuntut keberanian berserah dan yakin bahwa ketentuan Allah pada hamba-Nya adalah yang terbaik.

Oleh: Budi Sulistiyono
Magelang.

No comment for Syahadat Yang Berat

Leave a Reply

Your email address will not be published.