Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Kisah » Teladan » Kemuliaan Yang Membawa Kemuliaan

Kemuliaan Yang Membawa Kemuliaan

(1703 Views) February 24, 2014 12:40 pm | Published by | No comment

Pada suatu masa, pasukan Rasulullah di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib ra tengah menghadapi pertempuran di wilayah Tha’i. Pimpinan kabilah Tha’i dulunya adalah Hatim Ath-Tha’i. Seorang lelaki yang disegani dan dihormati kaumnya. Namun, dia telah wafat dan kini kepemimpinannya di Tha’i digantikan oleh anaknya Adi bin Hatim.

Adi bin Hatim adalah seorang lelaki muda yang cerdas, kaya raya, tegas, tetapi sayangnya sangat keras memusuhi Islam. Tak heran bila pada saat ini saja, Hatim mengirimkan pasukannya yang terkuat untuk melawan pasukan muslim. Dia sendiri tak mengikuti pertempuran itu dan tengah berada di luar Tha’i.

Kemuliaan Yang Membawa Kemuliaan

Peperangan sempat terjadi antara pasukan Rasulullah dan tentara Tha’i. Namun, setelah beberapa hari berlalu pasukan Islam berhasil mengatasi perlawanan tentara Tha’i dan mendapat cukup banyak harta rampasan dan tawanan perang.

Ketika para tawanan perang itu dikumpulkan dan dibawa ke hadapan Rasulullah saw, seorang perempuan yang berada di antara tawanan perang itu tiba-tiba berdiri dan berkata;

“Wahai Muhammad, orang tuaku telah tiada dan tidak ada lagi orang yang dapat diutus untuk menjadi juru bicara. Kini aku memohon kepadamu, apakah engkau bersedia melepaskan diriku dan tidak membiarkan kaum kami berduka? Sungguh, dimasa hidupnya, ayahku adalah seorang lelaki yang sangat dihormati di kabilah kami. Dia adalah seorang yang suka membebaskan tahanan, melindungi kesucian dan kehormatan, menjaga tetangga, membunuh penjahat, meringankan beban orang yang terkena musibah, menolong orang yang sedang susah, memberi makan yang kelaparan, membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Dia senang menyebarkan salam dan tak akan membiarkan seseorang yang menemuinya untuk satu keperluan pulang dengan tangan hampa. Itulah ayahku dan inilah aku, putri ayahku, putri dari Hatim Atha’i.”

Rasulullah saw mendengarkan dengan seksama dan berkata, “Wahai perempuan, sesungguhnya segala sifat ayahmu yang engkau sebutkan itu, itulah sifat-sifat orang beriman. Seandainya saja ayahmu seorang muslim tentulah kami telah berkasih sayang dengan dirinya.”

Kemudian Rasulullah saw pun berkata pada pasukannya, “Lepaskan dia, karena sesungguhnya ayahnya adalah seorang yang menyukai kemuliaan akhlak.”

Safanah, nama putri Hatim Ath-Tha’i itu, dibebaskan sebagai sebuah penghormatan pada dirinya dan ayahnya yang memiliki kemuliaan budi pekerti. Sebelum beranjak Safanah pun berkata, “Semoga Allah memberkahi kedudukanmu dan tidak menjadikan engkau memiliki kebutuhan pada orang yang hina. Semoga pula Allah tidak mengambil karunia dari orang pemurah seperti dirimu melainkan justru menjadikan engkau pintu datangnya sebuah karunia.”

Begitu dibebaskan, Safanah mencari saudaranya Adi bin Hatim dan menemuinya di Daumatul Jandal. Mengetahui Adi tengah mengalami kekesalan akan kekalahan pasukannya dan ingin mempersiapkan perlawanan kembali, Safanah segera saja berkata;

“Saudaraku, temuilah laki-laki itu (Rasulullah) sebelum tali-talinya mengikatmu. Sungguh aku telah melihat keteladanan yang membedakannya dari para penakluk perkasa. Dia memiliki sifat-sifat yang mengagumkan. Aku melihat dia begitu mengasihi orang miskin, menghoormati orang tua, mengasihi kaum muda, dan suka membebaskan tawanan. Tak ada yang lebih baik dan lebih mulia dari lelaki itu. Ikutilah dia wahai saudaraku. Jika dia seorang Nabi, tentulah kita akan memperoleh kemuliaannya. Bahkan, jikapun dia seorang raja, dengan mengikutinya kita tak akan mejadi rendah di dalam kebesarannya.”

Meski Adi bin Hatim awalnya tak suka pada Islam, namun dia mempercayai kata-kata saudari yang amat dikasihinya itu, apalagi Safanah telah bertemu langsung dan menyaksikan sendiri prilaku Muhammad. Berbeda dengan dirinya yang justru tidak ada bersama pasukan tempurnya.

Maka, beberapa waktu kemudian, Safanah dan Adi bin Hatim pun mendatangi Rasulullah. Setelah melihat sendiri bagaimana mulianya akhlak Nabi dan indahnya nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah, mereka berdua dengan segera menyatakan diri memeluk agama Islam dan menjadi pembela Islam hingga akhir hayat. (Zirlyfera Jamil)

No comment for Kemuliaan Yang Membawa Kemuliaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.