Menu Click to open Menus
Home » Fashion » Sejarah Jilbab di Indonesia

Sejarah Jilbab di Indonesia

(280 Views) February 17, 2017 5:41 am | Published by | Comments Off on Sejarah Jilbab di Indonesia

Jilbab atau kerudung menjadi salah satu pelengkap busana muslimah agar sesuai dengan syari’at Islam. Fungsi kain ini sebagai tudung atau penutup kepala yang akan menyembunyikan keindahan mahkota perempuan, rambut.

Di Indonesia, jilbab memiliki sejarah yang cukup panjang. Keberadaannya yang bukan merupakan warisan asli budaya nenek moyang bangsa Indonesia menjadikan lika-liku perjuangan di awal-awal kemunculan jilbab di tanah pertiwi.Trending jilbab masa kini mengundang banyak Tanya mengenai sejarah jilbab di Indonesia.

Sebelum menjadi bagian dari kiblat mode, jilbab pernah diasingkan.Sehingga para pemakainya yang teguh dianggap sebagai kaum marginal. Lalu siapakah tokoh pertama yang tidak pernah menyerah melawan zaman ?Siapapun dia pasti seorang wanita yang hatinya tangguh seperti baja dan lembut karena memahami aturan agama dengan baik.

Sempat disebut-sebut sebagai tokoh pembaharu Islam, H. Ahmad Dahlan juga tersangkut di sejarah kepopuleran jilbab di Indonesia.Tepatnya melalui istrinya, Nyai Ahmad Dahlan yang tidak pernah merasa malu mengenakan jilbab di luar rumah, ada banyak wanita muslimah yang kemudian mengikuti jejaknya.

Di belahan Indonesia yang lain, para pahlawan wanita ternyata selain berjuang membela bangsa dan negara juga membela agama. Contohnya saja Cut Nyak Dien beserta suaminya yang menjadi pahlawan bangsa dating dari serambi Mekkah demi menegakkan Islam sekaligus membela kehormatan nusantara.Selain itu, Tengku Fakinah yang namanya mungkin kurang tersohor di telinga wanita muda juga menjadi tokoh pemelopor jilbab dari tanah Aceh.

Sejarah Jilbab

Dari bukti otentik, diperkirakan awal mula masuknya jilbab ke Indonesia pada abad ke-17.Peter Mundy menggambarkan pakaian para wanita di Aceh ketika masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.Pemerintahan beliau dikenal sangat tegas dengan syari’at Islam hingga Belanda pun gagal menembus benteng pertahanan kerajaan.Ternyata semua kuncinya ada pada ajaran Islam.

Salah satu ajaran Islam yang hukumnya wajib adalah aturan berpakaian.Pada wanita, pakaian yang dikenakan haruslah menutup aurat sehingga tidak menggoda para lelaki.Sejak saat itulah para wanita Aceh selalu mengenakan busana muslim lengkap dengan jilbabnya. Kemudian kebiasaan ini menyebar ke daerah lain di Pulau Sumatra.

Pada awal mula perkembangannya, jilbab yang dikenakan tidak langsung sepenuhnya syar’i.Jilbab yang dikenakan para pendahulu kita berupa selendang atau kain ikat kepala yang diletakkan di atas rambut kepala.Hal ini sangat wajar karena Islam masih dalam taraf pengenalan pada kehidupan masyarakat Indonesia.Sehingga tidak ada yang berhak langsung memaksakan aturan Islam menggantikan kebudayaan dan adat masyarakat sebelumnya.

Bukti otentik ini dapat sahabat muslimah cek di buku karangan Ahmad Mansur Suryanegara, seorang Sejarawan nasional yang menaruh perhatian besar pada peran Islam dalam kemerdekaan Indonesia.Buku tersebut diberi judul ‘api sejarah.’

Di pulau lain bernama Sulawesi, seorang wanita muslim bernama asli Famajjah mulai menjadi pelopor jilbab di sekitar Sulawesi. Wanita ini tumbuh dari Palopo pada abad ke-19.Dia menjadi salah satu wanita bangsawan yang gigih memperjuangkan agamanya.Ketika telah menikah, namanya ditambahi gelar kebangsawanan kerajaan Sulawesi seperti Gowa dan Luwu.

Namanya kemudian menjadi Opu Daeng Siradju.Meskipun perempuan, nyatanya Opu Daeng Siradju berhasil menunjukkan semangat tak pantang menyerah.Ia berhasil berprestasi dengan jilbabnya. Buktinya ia menjadi ketua PSSI di tahun 1930 dan masuk ke dunia militer di pemerintahan.

Pemakai Jilbab

Jika memang seorang wanita muslim diwajibkan menutup seluruh auratnya, mengapa masih banyak muslimah yang pakaiannya seperti orang zaman pra-Islam ?.Jawabannya ada pada keimanan dan ketauhidan masing-masing. Kita tidak dapat langsung memaksakan suatu aturan kepada orang lain tanpa mengambil hatinya terlebih dahulu.

Begitu pula dengan jilbab yang menjadi identitas wanita muslim. Para da’i pada waktu itu menaruh prioritas pembangunan keimanan dan ketauhidan masyarakat terlebih dahulu sebelum mengajari bab fiqih dan tata hukum agama yang lainnya.

Tidak bisa kita menyalahkan muslimah begitu saja tanpa memberi pengertian mengenai cara memperbaiki akhlaq dan bertata karma sesuai syari’at Islam. Namun bukan berarti juga kita membiarkan seorang muslimah terus menyempurnakan akhlaq dahulu sebelum siap mengenakan jilbab.

Jilbab merupakan bentuk taat kepada Allah SWT, bukan bukti kesempurnaan seorang muslimah.Jangan terus menunggu akhlaq sempurna baru menyempurnakan hijab.Tidak ada yang dapat menjamin kesempurnaan seorang manusia.

Mode Jilbab

Sesuai dengan zaman yang terus berkembang, jilbab yang termasuk ke dalam bagian fashionista Indonesia selalu ikut berkembang.Pusat atau kiblat mode biasanya adalah para artis yang menjadi publik figur masyarakat.Berikut adalah tren mode jilbab sejak awal kemunculannya.

  1. Kain

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, para pelopor jilbab hanya menjadikan sepotong kain yang dilipat menjadi segitiga lalu bagian tumpulnya dipakai di atas dahi.Sementara itu, bagian lain dibiarkan terurai. Atau dengan cara lainnya yaitu kain yang dipakai langsung dijahit berbentuk selendang dan disampirkan ke bahu pemakai. Hanya sesederhana itu saja.Tentunya sebagian rambut masih kelihatan dank arena inilah jilbab awal belum syar’i.

  1. Mengikat Jilbab

Pada tahap selanjutnya, para publik figur mengubah cara memakai jilbab. Mereka mulai meringkas jilbab yang sering terurai ke bawah dan sering merepotkan. Caranya dengan mengkita kedua sisi jilbab di depan dada sampai ke bawah dagu. Dengan begitu, jilbab akan lebih rapi daripada sebelumnya. Namun cara ini membuat dada semakin menonjol.

  1. Style

Memasuki abad ke-21, trend mode semakin menggila.Perubahan mode terjadi begitu cepat hingga merepotkan para penganut style.Nah, wanita berhijab yang selalu ingin tampil modis juga harus menyesuaikan diri. Style yang menjadi hits mudah berganti.

Dulunya, di era 50-an sampai 90-an, para muslimah sering mengenakan ciput atau ikat kepala sebagai penutup rambut agar lebih rapat. Tujuannya untuk memastikan tidak ada rambut yang keluar sama sekali. Sehingga meskipun dada mungkin masih belum tertutup sempurna, namun kepala telah tertutup rapat.

Mulai tahun 2000-an, para wanita muslimah sudah memberanikan diri mengkreasikan jilbab.Memang tidak seperti hijab syar’i yang diajarkan Islam.Namun, orang senang melihat dan memakainya.Jilbab Indonesia memang khas sejak awal kemunculannya.Dan karena itu pulalah jilbab menjadi identitas khas negara kita, bukan lagi mutlak milik wanita Islam.

Comment Closed: Sejarah Jilbab di Indonesia

Sorry, comment are closed for this post.