Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Keluarga » Pendidikan Anak » Menanamkan Kemandirian Pada Anak

Menanamkan Kemandirian Pada Anak

(1396 Views) February 27, 2014 1:44 am | Published by | No comment

Menanamkan Kemandirian Pada AnakDalam suatu kesemapatan saya berbincang dengan seorang ibu yang memiliki anak usia remaja. “Wah, enak ya Mbak, udah punya anak gadis, jadi ada yang bantu-bantu pekerjaan rumah,” kata saya.

Di luar dugaan, beliau menjawab, “Anak zaman sekarang lain, nggak kayak kita dulu. Seusia mereka, kita sudah mengerti pekerjaan rumah. Sekarang mereka nunggu disuruh. Itu pun pakai embel-embel, ‘Sebentar Mi.'”

“Memang sih, saya juga salah, tidak dari dulu membiasakannya karena kasihan melihat banyaknya tugas-tugas sekolah mereka,” tambahnya.

Seorang teman juga bercerita tentang perbedaan persepsi mendidik anak dengan sang suami. Saking sayangnya pada anak, suaminya tidak setuju kalau anak mereka disuruh membantu pekerjaan rumah seperti menyapu atau mencuci piring. Sang suami bersikeras membiarkan anak-anak dengan dunia belajar dan bermain saja. Toh, nanti jika besar mereka juga akan mengerti. Sementara teman saya ingin melatih anak-anaknya agar punya rasa tanggung jawab. Namun, demi menghindari konflik diturutinya keinginan suaminya itu.

Walhasil, sekarang dia cukup kelimpungan menghadapi anak-anaknya yang serba ketergantungan dengan ummi atau abinya. bahkan pada hal-hal sepele sekalipun.

Saya jadi ingat saat bersama rekan kerja melakukan tes Deteksi Dini Tumbuh Kembang di sebuah TKIT di kota kami. Dari hasil tes tersebut dapat dikatakan bahwa anak-anak kita secara fisik, intelektual, dan bahasa tidak bermasalah. Poin kemandirianlah yang jadi masalah. Jika ditanya siapa yang memakaikan sepatu atau baju, kebanyakan dari mereka menjawab kalau tidak abi ya umminya. Semua serba dilayani.

Urusan menanamkan kemandirian pada jiwa anak memang bukan perkara mudah. Walaupun mungkin secara teori kita sudah banyak membaca buku yang berkenaan dengan ini. Seperti pengalaman saya dan suami dengan si sulung yang berusia tiga tahun, kami ingin dia mengerjakan sendiri suatu pekerjaan misalnya membereskan mainan, atau memakai celana. tetapi manakala dia lamban kadang kami langsung mengambil alih tugas itu. Hilanglah kesempatannya untuk belajar.

Terus terang, kadang tanpa sadar saya ingin dia bisa langsung tepat dalam mengerjakan tugasnya. Yah, disini kesabaran sangatlah diperlukan. Dan terkadang komitmen saya runtuh manakala dia merengek capek atau tidak bisa. Ujung-ujungnya saya juga yang mengerjakan.

Saya bukan ingin berbagi tips mengingat saya jauh dari piawai. Hanya saja saya ingin mengajak untuk menengok sejarah masa kecil kita. Betapa hebatnya orang tua kita. Mereka tampaknya tidak merasa berat dengan banyaknya anak meski tak punya pembantu. Bahkan mampu mendelegasikan tugas rumah tangga pada anak-anaknya.

Kawan saya bercerita, saat dia kecil dan ibunya harus dirawat di rumah sakit, ia dan saudara-saudaranya otomatis saling berbagi tugas di rumah. Bayangkan kalau anak-anak kita berada pada situasi semacam itu.

Nampaknya, orang tua kita memang serius menempa kita. Walaupun kadang terasa keras, sehingga tak jarang kita ogah-ogahan atau jengkel kalau disuruh. Tapi mereka pantang menyerah, terus membimbing penuh kesabaran sampai akhirnya kita bisa. Itulah sebenarnya bentuk kasih sayang mereka pada kita. Dan sekarang, kita patut berterima kasih kepada mereka karena telah menanamkan jiwa kemandirian pada diri kita.

Saya pikir semestinya kita bisa meniru mereka. Tentu kita tidak ingin karena mengatasnamakan sayang, justru menjerumuskan masa depan mereka. Tugas berat memang, tapi kelak kita akan memetik buahnya dan anak-anak kita insya Allah akan berhasil hidup di masa depan dengan kemandiriannya.

Oleh: dr. Dany Puji Mintarti

No comment for Menanamkan Kemandirian Pada Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published.