Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Kajian » Jika Kita Dekat dengan Al Qur’an

Jika Kita Dekat dengan Al Qur’an

(269 Views) February 28, 2017 7:23 am | Published by | Comments Off on Jika Kita Dekat dengan Al Qur’an

Sungguh menjadi kebanggaan tersendiri bila kita mendapatkan kemampuan membaca firman-firmanNya setiap hari. Baik itu satu ayat atau satu juz, semuanya adalah anugerah. Tidak semua orang diberi kesempatan membuka mushaf Al Qur’an. Percaya tidak percaya itulah salah satu petunjuk hanya kepada orang-orang yang bersih hatinya. Orang-orang yang dikehendaki Allah SWT untuk membersihkan jiwanya.

Pernahkah terbesit tanda tanya di benak sahabat muslimah, mengapa kita merasa sangat berat sekedar membuka mushaf Al Qur’an saja. Di dalam hati sudah ada keinginan bertadarus, namun lidah dan tangan tidak mendukung. Padahal salah satu tanda wanita muslimah sejati adalah keistiqomahannya membaca ayat-ayat suci beserta maknanya kemudian mengamalkan di kehidupan sehari-hari.

Kebutuhan Hidup

Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sebagai manusia biasa, gemerlap dunia selalu menggoda. Kecuali jika kita sudah menjadi manusia zuhud. Sayangnya, bukankah sahabat muslimah juga sama seperti saya yang masih selalu berusaha memperbaiki keimanan lagi dan lagi tanpa henti. Karenanya, kita selalu mencari motivasi kemana-mana agar keimanan kita tidak jatuh terlalu dalam saat ujian hidup mulai berdatangan.

Wajar bila seorang manusia –muslimah sekalipun- merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki oleh wanita lain. Ingin rasanya memiliki harta yang banyak agar dapat memperbaiki penampilan hingga lebih mewah dari wanita lain. Pasti sebagai perempuan yang kodratnya senang dipuji, sahabat muslimah pernah memiliki pikiran seperti itu. Tetapi sayangnya nasib tidak selalu sejalan dengan keinginan.

Sementara beberapa orang yang tingkatan imannya sudah lebih tinggi sedikit berada di posisi  ghibthah. Yaitu keadaan di mana sahabat muslimah ingin nikmat yang dirasakan orang lain juga dirasakan diri sendiri tanpa harus menghilangkan nikmat tersebut dari orang lain. Sahabat muslimah juga tidak membenci orang yang memiliki nikmat tersebut. Hanya saja menginginkan diri sendiri mengalami seperti pengalaman orang tersebut.

 

Untuk mengintropeksi diri agar tidak bertindak gegabah, kita wajib menanyakan beberapa soal kepada diri kita sendiri. Berikut adalah soal-soal yang dapat membantu kita memperbaiki diri :

  1. Iri

Pernahkah kita merasa iri dengan sahabat muslimah lain yang memiliki tingkat keimanan lebih tinggi ?. Dia lebih istiqomah melaksanakan hukum-hukum Allah lengkap dengan sunnah Rasulullah SAW. Atau jangan-jangan kita hanya iri pada wanita yang banyak diburu pria, diperbincangkan kecantikannya di setiap warung kopi.

Apabila kita mengalami iri yang kedua saja mari beristighfar bersama-sama. Hal tersebut adalah tanda-tanda lemahnya lemahnya syu’ur Qur’ani (motivasi dengan Al-Qur’an). Orang-orang sholeh selalu berusaha meningkatkan intensitas interaksi bersama Al-Qur’an dan hal-hal berbau akhirat. Inilah salah satu tindakan nyata fastabikhul khairaat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

  1. Sahabat Al Qur’an

Sebuah hadits Rasulullah SAW berbunyi “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).

Jangan mengaku cinta Al Qur’an jika bertadarus aja kita malas. Tidak dapat disebut wanita sholehah jika kita tidak bersahabat dengan firmanNya. Bukan perkara mudah untuk mengistiqomahkan waktu tertentu demi membaca ayat-ayat suci tersebut.

  1. Kualitas Iman

            Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30). Ayat di atas seharusnya dapat mengingatkan diri kita sendiri akan kualitas keimanan. Coba ditanyakan kepada diri sendiri. Cukup kita dan Tuhan saja yang mengetahui.

            Apakah sahabat muslimah pernah bingung karena dalam beberapa bulan sama sekali gagal mengkhatamkan Al Qur’an. Kualitas keimanan seseorang yang sudah tebal akan terlihat langsung ketika ia tidak dapat memahami makna Al Qur’an, gagal membaca Al Qur’an dengan target tertentu atau tidak dapat berlama-lama mendengarkan Qori’ membaca Al Qur’an dengan tajwid.

  1. Terlalu Fokus Dunia

            Orang-orang yang terlalu fokus dengan kehidupan dunia gagal mendapatkan ketenangan yang dimiliki orang-orang pecinta Qur’an. Jika sahabat muslimah sedang melakukan dosa dengan sadar dan sama sekali tidak merasa bersalah mohon berhati-hati. Bisa jadi itu tanda kematian hati sekaligus peringatan agar segera mendekatkan diri kepada Al Qur’an lagi.

  1. Balasan Allah SWT

Rasulullah Saw pernah bersabda : “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)

Siapa orangtua yang tidak menginginkan seorang anak sholeh-sholehah ?. Anak-anak seperti itulah yang akan menyelamatkan kita sebagai orangtua kelak di akhirat. Anak-anak sholeh adalah pembawa cahaya di kubur kita sehingga siksaan di alam barzakh terasa lebih ringan. Dan salah satu tanda anak sholeh-sholehah adalah anak-anak yang mempelajari Al Qur’an kemudian mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Al Qur’an sendiri lebih dari sekedar bacaan. Segala macam ilmu berada di dalam Al Qur’an. Hanya saja ada yang tersirat dan sisanya tersurat. Karenanya, diperlukan ilmu tertentu untuk dapat memahami maknanya. Agar tidak terjadi penafsiran secara subjektif. Kita harus ingat bahasa Al Qur’an sudah termasuk bahasa Arab tingkat tinggi. Oleh sebabnya, dibutuhkan guru yang telah memahami Al Qur’an dan maknanya untuk memahami kandungannya.

Jika kita termasuk ke dalam orang yang bersih hatinya, kita akan merasa terpanggil untuk mempelajari Al Qur’an. Tanpa disuruh guru agama atau orangtua, kita sadar ada banyak manfaat yang diberikan oleh Al Qur’an. Kita akan mempelajarinya dengan sukarela. Itulah anugerah besar yang sering diabaikan.

Memotivasi Diri Mencintai Al Qur’an

Allah SWT yang sejatinya Tuhan alam semesta dengan rendah hati mengajak ummat manusia kembali ke jalanNya. Sebagaimana firmanNya dalam surat Al Fajr. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)

Setelah menanyakan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri, kita perlu diam sejenak. Berpikirlah kembali tentang kebaikan-kebaikan yang kita peroleh dengan membaca dan memahami Al Qur’an. Di luar sana ada banyak orang yang sukses di dunia lalu merasa bingung menghadapi masalahnya. Betapa larisnya para psikiater di zaman sekarang karena bertambahnya jumlah manusia yang merasa terkena gangguna jiwa.

Dengan berpegang teguh pada Al Qur’an, kita pasti bisa melewati semua ujian dengan lancar. Percaya atau tidak, Al Qur’an dapat memberi ketenangan yang tidak bisa dijelaskan oleh orang-orang tidak religius. Maka sebagai muslimah, kita harus bersyukur terlahir sebagai muslim. Islam tidak hanya mengajarkan mengenai cara menggapai surga, tetapi juga meraih kesuksesan dunia. “….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)

Comment Closed: Jika Kita Dekat dengan Al Qur’an

Sorry, comment are closed for this post.