Menu Click to open Menus
Home » Keluarga » Pernikahan » Improvisasi Kebosanan Dalam Rumah Tangga

Improvisasi Kebosanan Dalam Rumah Tangga

(2241 Views) March 21, 2014 1:57 am | Published by | No comment

Konsekuensi yang paling tidak diperhitungkan dan tidak atau jarang diantisipasi oleh kedua pasangan suami istri adalah kebosanan. Ya, rasa bosan. Bagaimana seorang lelaki selama bertahun-tahun setiap malam tidur ditemani oleh seorang wanita yang “itu-itu” saja? Bagaimana seorang wanita tidur setiap malam selama bertahun-tahun ditemani oleh seorang lelaki yang “dia lagi-dia lagi”? Ini sungguh luar biasa! Sangat luar biasa!

Improvisasi Kebosanan Dalam Rumah Tangga

Nah, manakala rumah tangga sudah terbilang tahun, mulailah timbul benih-benih kebosanan – walaupun tidak semua rumah tangga mengalami hal ini. Perasaan bosan ini biasanya diaktualisasikan dalam bentuk perselingkuhan. Ada saja jalan yang bias menyulut atau mempercepat terjadinya peristiwa itu. Pepatah lama yang mengatakan “rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput di halaman rumah sendiri” rupanya mendapatkan pembenaran dalam peristiwa perselingkuhan.

Dan lebih celaka lagi, bagi sebagian kecil kalangan, selingkuh seperti menjadi gaya hidup modern. Kalau tidak selingkuh tidak ngetrend dan ketinggalam jaman. Tidak heran kalau kemudian kita dengar istilah SKA; selingkuh keluarga awet, PIL; pria idaman lain, atau WIL; wanita idaman lain. Bagi mereka yang tidak mempunyai “urat malu”, selingkuh terang-terangan tidak menjadi masalah. Bahkan di depan public dan di blow-up media massa! Ada yang beralasan, selingkuh “sekedar” untuk penyegaran, atau untuk variasi. Yang lainnya merasa bangga, karena meskipun sudah berumah tangga tetapi masih tetap “laku”.

Seoarang teman yang sangat “menikmati” perselingkuhan berkomentar ringan, “Yah, habis makan setiap hari sama tempe kan bosan juga. Sekali-kali kan boleh nyari tahu atau telur!”.

Logika begini sepintas, kalau kita tidak serius memikirkannya, memang benar. Tapi membandingkan pasangan hidup kita dengan tempe, tahu atau makanan lainnya, menurut saya, sangat naif dan tidak pada tempatnya. Bagaimana mungkin manusia yang berdarah, berdaging, bernafas, berjiwa, berpikir, dan berperasaan, disamakan dengan benda mati yang tidak bisa berinteraksi? Bukankah itu berarti kita menganggap pasangan kita sebagai obyek belaka?

Bila kebosanan melanda kita selaku suami atau istri, maka seyogyanya kita bersyukur. Karena itu berarti Allah Azza wa Jalla memberikan kesempatan kepada kita berimprovisasi untuk kembali menghangatkan hubungan kita dengan pasangan kita. Kita diingatkan oleh Allah Swt agar merajut kembali kemesraan yang mulai terasa hambar. Tentu saja improvisasi yang dimaksud di sini adalah kegiatan-kegiatan yang diridhoi oleh Allah Swt. sekaligus menyenangkan pasangan kita.

Bentuk-bentuk improvisasi itu mesti kita lakukan dengan pasangan kita, bukan dengan orang lain. Bisa saja kita mengajak pasangan kita berlibur hanya berdua, atau sekedar jalan atau ”menapaktilasi” masa-masa indah dulu, atau makan malam disebuah resto yang mempunyai kenangan manis dan bersuasana romantis.

Incoming search terms:

No comment for Improvisasi Kebosanan Dalam Rumah Tangga

Leave a Reply

Your email address will not be published.