Menu Click to open Menus
Home » Kisah » Renungan » Berjilbab, Hati Dulu atau Kepala?

Berjilbab, Hati Dulu atau Kepala?

(751 Views) September 8, 2015 3:22 pm | Published by | Comments Off on Berjilbab, Hati Dulu atau Kepala?

Melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang jilbab, ada bermacam-macam alasan yang digunakan oleh muslimah yang enggan menggunakan jilbab, mulai dari,gerah dan panas, tidak cantik, tidak bisa bergaya, malu dibilang sok alim, hingga dengan alasan, seharusnya menjilbabkan hati dulu belum menjilbabkan kepala.

Khusus untuk statement terakhir, menjilbabkan hati dulu sebelum menciptakan kepala memang tidak ada salahnya. Namun yang perlu kita tahu bahwa ada dua hal penting yang harus kita pikirkan yaitu, hubungan kita secara horizontal dan hubungan kita secara vertikal.

Hubungan kita secara horizontal dengan manusia di sekitarnya tentunya sangat berbeda dengan hubungan secara vertikal yang berkaitan dengan Allah. Manusia tidak pernah mengetahui hati kita seperti apa dan hanya Allah serta malaikatnya saja yang tahu. Sedangkan yang diketahui oleh manusia di sekitar kita hanyalah apa yang mereka lihat.

Di dalam Alquran, Allah telah berfirman yang artinya:

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”
[QS. Ali ‘Imran: Ayat 112]

Jika kita memperhatikan ayat diatas, tentu tidak sulit untuk mengambil kesimpulan bahwa, baik hubungan dengan Allah dan hubungan antar manusia tidak boleh dipisahkan begitu saja. Artinya bahwa, selain kita memiliki tanggung jawab kepada Allah, Kita juga memiliki tanggung jawab terhadap sesama.

  • Menjilbabkan Hati

Jika kita kembali merenungkan arti dari surah Ali-‘Imran tersebut, rasanya tidak mungkin kita bisa menjilbabkan hati tanpa menjilbabkan kepala. Begitu juga sebaliknya. Hati dan bagian terluar dari tubuh sebenarnya bagaikan 2 sisi mata uang yang membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.
Menjilbabkan hati tanpa menjilbabkan kepala, tetap akan mendapatkan kehinaan, begitu juga sebaliknya apabila hanya menjilbabkan kepala tanpa menjilbabkan hati.

  • Jilbab Budaya Arab

Jilbab bukan hanya dipandang sebagai budaya Arab, melainkan, karena tidak berseberangan dengan agama Islam, serta ditekankan di dalam Alquran, sehingga jilbab merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin adalah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang.” Al-Qur’an surah Al-ahzab Ayat 59.

Jika kita hanya beralasan bahwa jilbab adalah budaya Arab? Lalu apa budaya Indonesia?

Celana jeans? Bukan! Celana jeans datang dari Amerika yang dimulai pada tahun 1848.

Ahhh.. Mungkin pakaian minim dan sexy? Bukan! Itu budaya ahli neraka!

“… para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya,…” penggalan hadits riwayat Imam Muslim.

Lalu apa budaya Indonesia? Kebaya! Konde! Nah itu baru bener. Gimana?.. Mau gak kalo pake kebaya keluar rumah? Ato pake Konde ke kondangan biar dibilang orang asli indonesia nih??! Hehehe…

Semoga Ukhti sahabat hijabnesia yang belum berjilbab segera diberikan Hidayah. Wallahu A’lam Bishawab.

Comment Closed: Berjilbab, Hati Dulu atau Kepala?

Sorry, comment are closed for this post.