Menu Click to open Menus
Home » Kajian » 5 Tahap dalam Proses Ta’aruf

5 Tahap dalam Proses Ta’aruf

(172 Views) February 25, 2017 6:59 am | Published by | Comments Off on 5 Tahap dalam Proses Ta’aruf

Di zaman globalisasi ini, pertukaran kebudayaan beserta adat istiadat terjadi di luar kendali. Hingga westernisasi alias kebarat-baratan sudah menjadi gaya hidup bagi orang-orang timur yang tinggal di benua Asia. Salah satu gaya hidup yang paling menonjol ada pada dunia percintaan.

Orang barat menganggap tidak biasa jika seseorang menikah tanpa melalui proses berpacaran terlebih dahulu. Padahal sejak dulu, di Indonesia sendiri memang tidak mengajarkan anak-anak muda berpacaran. Justru banyak kisah rumah tangga yang dibangun dari perjodohan. Semuanya bermula dari niat orangtua yang menginginkan jodoh terbaik bagi putra – putrinya.

Alasan yang banyak dijadikan tameng adalah karena menikah bukan perkara main-main, jadi dibutuhkan proses pengenalan terlebih dahulu. Proses pengenalan ini akan meminimalisir kemungkinan kecewa lalu bercerai. Bagaimanapun juga, perceraian masih menjadi aib bagi sebagian kelompok masyarakat. Karenanya pacaran dianggap sangat wajar dan justru beberapa orangtua menganjurkan kepada anaknya untuk berpacaran.

Pacaran yang diinginkan para orangtua adalah hubungan sehat yang biasa disebut pacaran sehat. Namun, sesehat apapun sebuah hubungan pra nikah tersebut, aka nada sakit hati yang ditinggalkan. Entah satu atau kedua belah pihak. Cerita proses menuju pacaran sendiri dianggap memerlukan perjuangan khusus bagi beberapa orang, dan ujung-ujungnya lebih banyak yang putus daripada maju ke pernikahan.

Memang beberapa publik figur yang sudah menjalin hubungan pacaran bertahun-tahun ada yang berakhir di pelaminan. Namun itu hanya segelintir kisah dari sekian banyak banyak orang yang berpacaran lalu berujung pada kerusakan masa depan karena hamil di luar nikah atau pacaran yang awalnya manis lalu berakhir tragis karena putus.

Lalu bagaimana Islam menyikapai fenomena pacaran sebagai cara alternatif menyaring calon pendamping hidup ?. Sebenarnya di dalam Islam sendiri sudah ada jalur lain selain pacaran yang biasa dijalani oleh orang-orang umum. Namanya adalah ta’aruf. Banyak orang Islam yang pernah mendengar kata tersebut tetapi belum paham bagaimana prosesinya. Karenanya, kali ini saya ingin sahabat muslimah memahami proses ta’aruf yang dianjurkan di dalam Islam.

Pengertian Ta’aruf

Karena berasal dari bahasa Arab, orang awam lebih sukar mengira-ngira proses yang mungkin terjadi dalam setiap tahapannya. Secara bahasa, ta’aruf sendiri memiliki arti perkenalan. Dari sini sahabat muslimah sudah dapat membayangkan bagaimana cara melakukan ta’aruf ?. Ternyata hampi sama dengan makna pacaran yang bertujuan untuk mengenal satu sama lain.

Ta’aruf yang dimaksudkan kali ini adalah proses mengenal antara laki-laki dengan perempuan yang bertujuan utama memasuki jenjang pernikahan dan menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Inilah tahapan awal sebelum meminang (khitbah) dan benar-benar menikah.

Pernikahan memang suatu hubungan yang sakral. Oleh sebab itu, jangan sampai salah memilih pasangan hidup yang akan mendampingi kita dalam kondisi apapun. Pasangan ini diharapkan merupakan jodoh sejati yang sudah ditakdirkan Allah SWT. Bukan pelabuhan hati yang hanya dibuat bersinggah lalu ditinggalkan untuk menuju tujuan utama yang lain.

Proses Ta’aruf

Ta’aruf dengan pacaran memang sama-sama saling berusaha mengenal. Namun tentu ada perbedaan yang tegas di antara kedua cara tersebut. Berikut adalah proses yang dilakukan kedua belah pihak yang sedang menjalani ta’aruf untuk mencari tambatan hati sejati.

  1. Niat

Ini dia yang menjadi dasar perbedaan ta’aruf dengan pacaran. Ta’aruf hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah siap menikah, bukan sekedar main-main menyenangkan hati. ‘Siapa tau jodoh’ tidak berlaku di sini. Ungkapan tersebut mengesankan orang yang menjalani ta’aruf lebih menyukai hubungan demi kesenangan sesaat. Kalau merasa cocok lanjutkan perlahan, kalau tidak diputuskan. Ta’aruf tidak sebercanda itu.

Karena memang diniatkan untuk mencari calon istri, pihak pria harus sudah sadar diri bagaimana kondisi kesiapannya untuk membina rumah tangga. Apakah ia telah berhasil move on dari segala masa lalu buruknya yang mungkin akan menghambat proses pernikahan. Dan bagaimanakah perjalanan hidupnya sampai saat ini ia berniat melakukan ta’aruf menjadi bukti bahwa seorang pria memang berniat memberi keseriusan pada pihak perempuan. Bukan hanya menggantungkan status.

  1. Proposal

Kedengarannya seperti akan melamar kerja. Tetapi inilah bukti keseriusan orang yang sedang melakukan ta’aruf. Proposal ini berisikan penjelasan mengenai perjalanan hidupnya, hal-hal yang dibencinya dan disukainya, aktivitas sehari-hari, kondisi lingkungan serta nasab keturunannya sampai rencana-rencana hidupnya di masa depan.

Proposal hidup ini dibuat sendiri dan dipresentasikan sendiri di hadapan pihak muslimah. Proposal tersebut harus memenuhi syarat kejujuran. Semuanya harus dibuka secara transparan agar tidak ada pihak yang menyesal di kemudian hari. Proposal hidup yang sudah dibuat diberikan ke pihak lawan jenis melalui perantara atau langsung.

Jika proposal dikirim lewat perantara, pastikan dulu orang yang dijadikan perantara dapat dipercaya. Semisal orangtua, guru spiritual (ngaji), atau teman dekat. Setelah diberikan ke lawan, maka pihak sana akan memberikan datanya balik ke kita agar kita juga bisa mempelajari profil kehidupannya.

  1. Istikharakh

Sebagaimana seseorang yang ingin lulus ujian, orang yang ingin dipertemukan dengan jodoh dunia akhiratnya harus sering-sering meminta petunjuk. Salah satu langkahnya yaitu sholat istikharakh untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Penilaian manusia mungkin saja salah. Yang terlihat baik belum tentu benar-benar baik, dan yang kelihatan buruk bisa jadi hanya penutup untuk ujian pemilihan calon saja. Karenanya, kita harus banyak-banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT semasa mempelajari profil calon pendamping hidup.

  1. Bertemu

Di tahap yang keempat ini, kedua pihak boleh bertemu namun tidak berduaan. Tahap ini baru bisa dilakukan jika sudah sama-sama mendapatkan kemantapan hati hasil istikharah kepada Allah.

Seorang atau dua orang mediator sebagai perantara agar tidak ada syetan yang sempat menggoda menjadi syarat wajib pelaksanaan proses bertemu. Kadang kala kedua calon saling malu-malu saat bertemu, maklum saja mereka masih baru kenalan dengan kepribadian masing-masing.

Di proses inilah kedua pihak boleh menanyakan sepuasnya hal-hal yang mengganjal atau belum dipahaminya dari profil data. Meskipun sudah mempelajari, biasanya ada beberapa bagian yang memang lebih gamblang dijelaskan secara langsung. Di sinilah mereka dapat menjelaskan sedetail-detailnya tanpa ada kesalah pahaman.

Tugas perantara yaitu menemani mereka dan mencairkan suasana yang mungkin kaku. Selepas dari pertemuan, mereka boleh memikirkan hasil pertemuan tersebut dengan berunding bersama keluarga masing-masing. Jika sudah yakin benar dengan pilihannya boleh langsung lanjut ke proses khitbah (meminang) sebelum benar-benar menikah.

Waktu yang ditoleransi untuk hubungan ta’aruf ini tidak panjang. Sekalipun jika dijelaskan prosesinya sederhana, namun permasalahan hati tidak semudah itu dientengkan. Perlu pertimbangan yang matang tanpa terlalu lama memberi ketidakpastian. Oleh karena itulah proses ta’aruf paling lama 6 bulan saja. Selebihnya sudah bukan bagian dari ta’aruf dan harus segera memberi kepastian.

Tags: ,
Categorised in: ,

Comment Closed: 5 Tahap dalam Proses Ta’aruf

Sorry, comment are closed for this post.