Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Kajian » 4 Kelebihan Ta’aruf dibanding Pacaran

4 Kelebihan Ta’aruf dibanding Pacaran

(240 Views) February 26, 2017 7:11 am | Published by | Comments Off on 4 Kelebihan Ta’aruf dibanding Pacaran

Ta’aruf merupakan proses saling mengenal antara laki-laki dan perempuan dewasa dengan tujuan mencapai pernikahan yang diidamkan. Dalam berta’aruf, harus ada beberapa syarat dan tahapan dalam prosesnya. Sehingga ta’aruf terkesan lebih mengekang karena hampir penuh dengan aturan-aturan agar sah disebut ta’aruf.

Datangnya ta’aruf berasal dari syari’at agama Islam yang mulia. Dunia pun tahu bahwa Islam bukan hanya agama yang mengatur cara berinteraksi sesame manusia. Lebih dari itu, Islam mengajari ummatnya dalam bergaul dan mengatur tata cara berhubungan sesama manusia (hablumminannas). Salah satu syari’at tersebut dituangkan dalam proses ta’aruf.

Ta’aruf memiliki banyak kelebihan dibandingkan hubungan pacaran yang cenderung bebas tak terkendali. Banyak hubungan pacaran yang hanya digunakan sebagai status agar tidak kelihatan jomblo akut. Beberapa yang memang mencintai mengalami patah hati. Sisanya menganggap pacaran sudah seperti gaya hidup. Sehingga jika baru saja putus dari si A dengan cepat bergandengan dengan si B. Begitulah kenyataan hubungan pacaran yang sudah pernah dijalani oleh hampir seluruh remaja Indonesia masa kini.

Bagi mereka yang masih teguh mempertahankan prinsip-prinsip Islami, pastinya enggan melakukan pacaran. Salah satu pintu mendekati zina terbuka lebar ketika remaja memutuskan membina hubungan pra nikah lewat pacaran. Berbeda dengan ta’aruf yang walaupun terkesan aneh, akan tetapi menghasilkan kualitas cinta yang dapat dibanggakan. Berikut ini adalah kelebihan-kelebihan ta’aruf dibandingkan hubungan pacaran.

  1. Pasti

Banyak remaja, terutama kaum wanita yang merasa terjebak dengan hubungan berpacaran dalam waktu yang lama namun tidak segera dipastikan kapan menikah. Sementara itu, banyak yang sudah dekat tetapi masih tanpa status alias friend zone. Akibatnya ? galau lagi. Putus, pacaran lagi, galau lagi. Begitulah siklus dalam berpacaran terus menerus berputar.

Ta’aruf hadir untuk menjadi solusi permasalahan ini. Bagi kalian sahabat muslimah yang sudah lelah mengejar dan dikejar cinta boleh mencoba berta’aruf. Sahabat tidak perlu menanyakan lagi mau dibawa kemana hubungan tersebut setelah beberapa bulan berjalan. Ta’aruf selalu dipastikan berujung pada pernikahan –jika berhasil.

Silahkan bagi para sahabat muslimah yang merasa siap menjadi ibu rumah tangga. Boleh disegerakan prosesi ta’arufnya agar mendapat kepastian apakah si calon memang cocok menjadi pemimpin rumah tangga atau cukup berhenti sampai di situ saja. Jadi ta’aruf ini jelas dan tegas. Tidak ada pihak yang merasa digantung dan menggantungkan hubungan. Tidak ada yang dirugikan.

  1. No PHP

PHP alias Pemberian Harapan Palsu menjadi istilah yang sangat viral di kalangan anak muda. Pasalnya, banyak laki-laki yang mengumbar janji menikah. Seakan-akan ia sendiri sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk menjadi imam bagi pacarnya. Kenyataannya, beberapa kisah pacaran malah berakhir tragis. Pacarannya lama sama si A, eh nikahnya sama si B tanpa lama-lama bermesraan.

Itulah kehidupana cinta. Kadang memang sulit diterima, namun cinta tidak bisa dipaksakan. Di ta’aruf, pihak wanita yang biasanya paling tersakiti karena menjadi korban janji tidak lagi mengalami kepedihan itu. Apabila nanti prosesi ta’aruf memang menghasilkan kesepakatan tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan, tidak perlu khawatir.

Sejak awal bukankah sudah ditegaskan bahwa ta’aruf memang bertujuan mencari kecocokan di antara dua insan yang menginginkan membina hubungan rumah tangga. Pernikahan tidak dapat dimain-mainkan. Karenanya, bila memang merasa kurang cocok dapat dihentikan. Sudah ada kejelasan sejak awal. Sesakit hati apapun, pihak wanita tidak dapat menyalahkan laki-laki dan sebaliknya.

Kegagalan prosesi ta’aruf tidak dapat disamakan dengan PHP karena sudah dijelaskan sejak pertama. Apapun nanti hasilnya, berpikir positif saja bahwa itu yang terbaik. Kalau saling cocok ya langsung nikah. Kalau memang belum cocok ya langsung ditegaskan berhenti ta’arufnya. Hanya sesederhana itu tanpa memainkan perasaan perempuan yang gampang bawa emosi.

  1. Cepat Move On

Apa penyebab gagal move on ? hubungan yang sudah terlalu banyak kenangannya. Lalu darimana kenangan tersebut datang ? dari interaksi-interaksi yang dibangun dalam waktu lama. Tentu saja masih belum memikirkan apakah nantinya akan berujung pada pernikahan atau tidak. Baik laki-laki atau perempuan, keduanya memiliki potensi merasakan gagal move on.

Walaupun laki-laki kelihatannya menjadi pihak yang sering menyakiti, tapi kalau sudah merasa jatuh cinta ia bisa menangis seharian bahkan berhari-hari. Laki-laki juga manusia kan ? dengan semakin banyaknya kenangan yang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang, semakin sulit juga ia bangkit dari jatuh cintanya yang gagal.

Berbeda jika sahabat muslimah memilih proses ta’aruf. Sahabat bisa saja melakukan pertemuan dengan calon suami. Asalkan saja kedua belah pihak didampingi oleh perantara. Dengan adanya mediator, tindakan-tindakan tidak pantas akan sungkan dilakukan. Dengan hadirnya perantara itu pula kita lebih leluasa mengenali calon suami atau istri dengan mengenal karakternya daripada fisiknya.

  1. Tepat Sasaran

Banyak hubungan pra nikah yang diawali dari kenalan lewat dunia maya. Bisa jadi karena profil facebook atau instagram, lebih lucu lagi  fitur di BBM yang menyediakan kemampuan broadcast message (BC). Biasanya fitur ini dibuat anak-anak muda menyebarkan pin teman mereka yang masih jomblo. Kata-kata yang dipakai pun semacam promosi agar temannya didekati banyak lawan jenis. Padahal pada kenyataannya banyak yang sifat kepribadiannya tidak sesuai dengan kata-kata promosi.

Belum lagi berbahaya mengenal tanpa pernah berinteraksi sebelumnya adalah kekecewaan di kemudian hari. Sekaran ini sudah bukan hal baru lagi kasus pelarian seorang gadis setelah berkenalan dengan laki-laki lewat media sosial. Kasus lainnya tak jauh unik. Menikah di dunia nyata sehabis berpacaran selama sekian waktu di media sosial. Ketika menikah salah satu pihak marah dan ingin menceraikan pasangannya karena tidak sesuai dengan bayangannya selama berinteraksi di media sosial.

Mak comblang adalah sebutan bagi orang yang dijadikan perantara perjodohan. Baik itu hubungan pacaran atau pun pernikahan, keduanya dapat menjadi lahan garapan para mak comblang. Tidak ada salahnya mempercayai orang untuk mencarikan jodoh. Siapa tahu memang dari situlah jalan kita bertemu dengan jodoh sejati kita.

Yang perlu dijadikan catatan adalah profil mak comblang itu sendiri. Kita tidak dapat begitu saja menyerahkan urusan jodoh pada biro jodoh kan ?. Maka dari itu, di dalam ta’aruf yang menganjurkan kedua belah pihak membawa perantaranya masing-masing ternyata bukan tanpa tujuan. Perantara yang tujuannya mempermudah proses ta’aruf ini harus datang dari orang terpercaya pihak laki-laki atau perempuan sendiri. Bisa orangtua, saudara atau bahkan guru dan teman seperjuangan.

Dengan dipercayanya orang yang menjadi perantara dapat membuat kita menjadi lebih mantap maju ke depan. Data-data yang diberikan sangat akurat karena pastinya antara perantara dengan calon jodoh sudah beberapa kali interaksi. Begitulah bedanya antara pacaran yang biasanya hanya via media sosial dengan ta’aruf yang melibatkan orang kepercayaan. Orang terpercaya dalam hidup kita ini pastinya menginginkan yang terbaik untuk kita. Sehingga sebelum menawarkan akan mempertimbangkan dengan seksama.

Comment Closed: 4 Kelebihan Ta’aruf dibanding Pacaran

Sorry, comment are closed for this post.