Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Kajian » 4 Ciri Jodoh Ideal Menurut Islam

4 Ciri Jodoh Ideal Menurut Islam

(363 Views) February 23, 2017 3:49 am | Published by | Comments Off on 4 Ciri Jodoh Ideal Menurut Islam

Jodoh. Hampir setiap manusia menginginkan jodoh yang baik meski belum dapat memperbaiki diri. Baik atau buruknya jodoh bergantung pada kondisi diri sendiri yang masih terus bertahap menyempurnakan iman. Sementara itu, kata jodoh identik dengan cinta.

Cinta merupakan satu perasaan yang menjadi fitrah manusia. Berbicara mengenai cinta dan definisinya tidak akan selesai hanya dalam satu kali pembahasan. Cinta dapat mengubah perilaku manusia bahkan membelokkan keimanan anak Adam. Karenanya, cinta sering dikelompokkan menjadi cinta buta dan cinta sejati.

Rasa cinta yang hadir di antara sepasang suami istri sudah dapat dijamin kemurniannya. Sebelum dapat meraih jenjang pernikahan, mereka pasti melalui beberapa tahapan untuk dapat memantapkan hati menuju kursi pelaminan. Cinta pula yang membuat seseorang bersemangat melakukan pekerjaannya, termasuk beribadah kepada Allah SWT.

Berikut ini adalah ciri-ciri jodoh yang ideal menurut Islam. Apabila seseorang memilih menikah, tentu akan mempertimbangkan beberapa hal yang dianggap dapat mempengaruhi kualitas hubungan jangka panjang. Sahabat muslimah boleh menjadikannya motivasi agar terus menjaga kesucian diri dan kehormatan keluarga.

  1. Agama

Disebut juga Ad-Dien yang artinya sama dengan agama. Kedudukan agama bukan berarti hanya sekedar sesama muslim. Islam menyuruh lelaki menikahi perempuan muslimah dengan beberapa criteria sebagaimana yang tercantum dalam hadits Rasulullah SAW berikut.

Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra)
Dari hadits di atas, kita sebagai manusia yang realistis dapat dengan mudah memahami maksud dari Firman Allah yang disampaikan melalui Rasulullah SAW tersebut. Jika seorang perempuan yang agamanya baik, maka ia tentu akan membuat suaminya kaya, sholeh dan mengangkat nasab alias kehormatan keluarganya di masyarakat.

Jika seorang perempuan hanya dinikahi karena kecantikan, keluarganya yang memiliki reputasi tinggi atau karena ia merupakan seorang wanita karir yang mandiri saja besar kemungkinan laki-laki akan menyesal. Semua itu memiliki durasi waktu dan tidak akan bertahan selamanya. Coba diingat-ingat lagi, jika kecantikan dan popularitas dalam pergaulan menjamin kebahagiaan, tidak akan ada kasus para selebriti bercerai.

Apabila seorang laki-laki merasa bosan dengan penampilan calon istrinya yang kurang menarik, jangan langsung memutuskan pergi. Permasalahan kecantikan masih dapat diusahakan dengan memberi make up serta perawatan tubuh agar tampilan luar sang calon lebih memanjakan mata.

Sebuah hadits lain berbicara mengenai laki-laki yang berakhlaq seperti ini “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)
Hadits kedua di atas mengingatkan kita akan pentingnya agama. Penguasaan terhadap agama berarti penguasaan terhadap pengetahuan, cara bersikap dan bertindak serta kemampuan memecahkan masalah. Dengan kelihaian-kelihaian di atas, mustahil seorang laki-laki muslim yang baik gagal memberi nafkah terhadap keluarganya.

Yang banyak terjadi justru laki-laki muslim mengajak calon istrinya menikah ketika ia masih berada di masa sulit. Hanya dengan bekal agama dan kemantapan cinta, mereka berdua sangat mungkin merangkak membangun karir sejak di bawah belum mempunyai harta hingga berada di atas dengan harta dan pangkat yang bagus.

  1. Penampilan

Bukan hanya bagaimana cara mengenakan pakaian dengan kerudung atau sarung beserta kopyah. Penampilan meliputi sosok fisik seorang calon pendamping hidup tanpa menggunakan make up yang berlebih alias polos. Namun bukan berarti sebelum menikah, seorang laki-laki boleh melihat aurat perempuan calon istrinya secara langsung.

Di dalam proses ta’aruf, jika wanita tersebut mengenakan cadar boleh saja ia membuka penutup wajahnya agar si calon suami merasa tenang. Tidak ada pikiran-pikiran yang buruk membayangkan kemungkinan si istri ternyata memiliki cacat tertentu. Untuk lebih meyakinkan lagi, bolehlah pihak laki-laki menyuruh mahram calon istrinya untuk mengecek kecantikan fisiknya bagian dalam yang tidak mungkin dilihat langsung oleh non mahram.

Sejalan dengan perihal penampilan, Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ar-Ruum  ayat 21. “Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21). Tidak dapat dibohongi lagi, istri yang cantik atau suami yang tampan dapat menciptakan ketentraman sendiri dalam hati pasangan.

  1. Keluarga

Bukan hanya keluarga terpandang saja yang menjadi prioritas memilih calon pasangan hidup. Keluarga mempengaruhi karakter anak dengan sangat kuat, sekalipun memiliki perbedaan yang cukup banyak dari ayah atau ibunya, pasti ada nilai-nilai tertentu yang melekat pada diri si anak.

Baik atau buruknya seseorang dapat juga ditelusuri dari lingkungan tempatnya dibesarkan. Apakah ia merupakan anak dari keluarga terhormat yang baik-baik akhlaqnya, atau justru dilahirkan dari keluarga kriminal yang gemar melakukan maksiat. Semuanya harus dipertimbangkan dengan matang.

Seorang anak yang lahir ke dunia dari hasil perzinaan tidak dapat begitu saja disalahkan. Namun ia juga tidak dapat disamakan dengan anak dari hubungan halal. Ketika akan menikahi anak hasil hubungan gelap, yang harus diperhatikan adalah keturunan ibunya. Perhatikan juga wali nikah, karena suami dari ibu si anak tidak dapat mengesahkan pernikahan.

Yang ditakutkan adalah ketika anak hasil perzinahan tidak menceritakan asal-usul keluarganya dengan jelas. Di kemudian hari ia melakukan ulah buruk yang merugikan suaminya lalu suaminya menyesal karena sebelum pernikahan tidak berusaha mengenali nasab istrinya dengan baik. Belum lagi dengan haram atau halalnya hubungan suami istri yang sempat mereka lakukan setelah pernikahan, karena belum jelasnya status sah tidaknya pernikahan yang berlangsung.

Sementara itu, tidak masalah jika lelaki menikahi seorang perempuan yang sudah jelas bagaimana keluarganya. Sifat-sifat keluarga beserta didikannya ketika membesarkan anak-anak mereka akan memberi gambaran kepada calon peminang tentang watak calonnya.

  1. Harta

Faktor harta ini menjadi pertimbangan kesekian setelah ketiga faktor di atas terpenuhi. Harta yang banyak memang tidak menjamin kebahagiaan. Namun seorang perempuan yang dilahirkan di keluarga kaya dan atau laki-laki ningrat akan merasa ada yang ganjil jika pasangannya berasal dari keluarga bawah.

Bukan karena cinta yang diragukan. Akan tetapi bagaimana reaksi dari kedua keluarga besar yang akan menikah. Apakah sudah sama-sama bisa menerima kondisi keluarga satu sama lain, atau belum. Daripada di kemudian hari ada banyak caci maki yang dilontarkan lalu membuat pihak yang menikah tidak nyaman. Ujung-ujungnya adalah perpisahan. Na’udzubillah.

Incoming search terms:

Comment Closed: 4 Ciri Jodoh Ideal Menurut Islam

Sorry, comment are closed for this post.